Kuartal III, Realisasi Investasi Masuk Terbesar Ada di Jawa Barat

Locoshop.co.id – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) pada kuartal III 2022 sebesar Rp 307,8 triliun. Nilai tersebut tumbuh 1,9 persen dibandingkan kuartal II 2022 (quarter-to-quarter) dan tumbuh 42,1 persen dibandingkan kuartal III 2021 (year-on-year).

Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, mengatakan realisasi investasi itu berasal dari PMDN sebesar Rp 138,9 triliun dan PMA sebesar Rp 168,9 triliun. Adapun penyerapan tenaga kerja tembus sebanyak 325.575 orang pada kuartal III.

Read More

“Ini adalah sebuah target seperti di awal saya sampaikan bahwa Insya Allah target (realisasi investasi) kami di Rp 1.200 triliun akan bisa kita capai dan data ini betul-betul lewat LKPM online dan berdasarkan OSS berbasis UU Cipta Kerja sehingga lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers di Kantor BKPM, Jakarta, Senin (24/10).

Bahlil menjelaskan, realisasi investasi pada kuartal III didominasi dari penanaman modal di luar Jawa sebesar Rp 166,3 triliun. Sedangkan di Jawa tercatat sebesar Rp 141,5 triliun.

Nilai tersebut tercatat lebih tinggi secara (yoy) pada Kuartal III tahun 2021 yang mana investasi di Luar Jawa tercatat Rp 112,5 triliun. Sementara Pulau Jawa sebesar Rp 104,2 triliun.

Alhamdulillah, kalau kita lihat sekarang pertumbuhan ekonomi nasional kita kalau dulu kan di atas 60 persen sumbangsihnya dari Pulau Jawa. Sekarang (Jawa) sudah di bawah 60 persen. Ini terjadi karena penetrasi untuk investasi itu dilakukan di sebagian Pulau Jawa,” jelasnya.

Adapun sektor-sektor yang mendukung catatan realisasi investasi Kuartal II paling tinggi, yakni berasal dari industri logam dasar, barang logam, serta bukan mesin dan peralatannya. Sektor ini tercatat mencapai realisasi sebesar Rp 44,0 triliun.

Kemudian disusul oleh sektor transportasi gudang dan telekomunikasi sebesar Rp 32,5 triliun, sektor perumahan, kawasan perindustrian dan perkantoran sebesar Rp 28,9 triliun, lalu Rp 28,3 triliun, dari sektor pertambangan serta listrik gas dan air sebesar Rp 27,3 triliun.

“Realisasi investasi ini tidak semata-mata didorong oleh sektor jasa, kita sudah membangun industri hilirisasi. Bahkan hilirisasi masif dilaksanakan karena sesuai dengan instruksi Presiden,” tukasnya.

Sementara itu, untuk gabungan nilai PMA dan PMDN angka terbesar masih disumbang Jawa Barat sebesar Rp 27,5 triliun, disusul DKI Jakarta sebesar Rp 28,4 triliun. Lalu, Riau sebesar Rp 27,5 triliun, Jawa Timur Rp 25,9 triliun, dan Sulawesi Tengah sebesar Rp 24,3 triliun.

“Jawa Barat ini paten kali dalam konteks kecenderungan realisasi investasi. Karena selain pemerintahannya responsif juga kawasannya strategis. Tapi harus diakui produktifitas terhadap tenaga kerjanya juga bagus,” ujarnya.

Sedangkan, untuk lokasi PMA tertinggi pada kuartal III, BKPM mencatat Jawa Barat sebesar USD 1,7 miliar; Sulawesi Tengah USD 1,6 miliar; Maluku Utara USD 1,2 miliar; DKI Jakarta USD 1,0 miliar; dan Banten USD 0,9 miliar.

“Jadi Kuartal III, Maluku Utara dan Sulawesi Tengah masuk (5 besar PMA tertinggi). Itu mengalahkan DKI malah,” tandasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : R. Nurul Fitriana Putri



Sumber: www.jawapos.com

Related posts