Kinerja Lembaga Sektor Jasa Keuangan Belum Terdampak BI Rate

Locoshop.co.id – Stabilitas sektor jasa keuangan masih terjaga sampai Oktober 2022. Begitu pula kinerja intermediasi yang cenderung bertumbuh. Optimisme pasar masih positif meski inflasi masih tinggi dan suku bunga Bank Indonesia (BI) terus meningkat.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menuturkan, sejumlah lembaga internasional memperkirakan ekonomi global akan tumbuh melambat pada 2023. Sebagai akibat dari pengetatan kebijakan moneter global, tingginya harga komoditas energi dunia yang dipengaruhi tensi geopolitik, dan masih persistennya tingkat inflasi di level yang tinggi.

“Oleh karenanya, perlu dicermati perkembangan sektor-sektor yang memiliki porsi ekspor yang tinggi serta sektor padat modal yang akan lebih terdampak oleh kenaikan suku bunga,” ucapnya usai rapat dewan komisioner bulanan, Selasa (6/12).

Indikator perekonomian terkini menunjukkan kinerja ekonomi nasional masih cukup baik. Terlihat dari neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus, purchasing managers index (PMI) Manufaktur yang berada di zona ekspansi, dan indikator pertumbuhan konsumsi masyarakat yang masih solid. Selain itu, optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi juga masih positif.

BI juga kembali meningkatkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) pada rapat dewan gubernur 17 November lalu. Dengan tujuan untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar.

“Namun demikian, laju pemulihan perekonomian maupun intermediasi sektor keuangan belum terlalu terdampak atas kenaikan suku bunga dimaksud,” terang Mahendra.

Mantan wakil Menteri Luar Negeri itu memastikan stabilitas sektor jasa keuangan saat ini terjaga. Namun, adverse effects akibat kompleksitas tekanan yang dihadapi ekonomi global perlu diwaspadai. Baik dari sisi kebijakan normalisasi global, ketidakpastian kondisi geopolitik, serta laju inflasi yang meskipun termoderasi namun persisten di level yang tinggi. Perlambatan outlook pertumbuhan ekonomi ke depan menjadi tak terhindarkan.

Akselarasi laju pengetatan likuiditas dan kenaikan tingkat suku bunga berpotensi menekan sektor jasa keuangan dari berbagai sumber vulnerabilitas. Seperti liquidity mismatch, fluktuasi asset prices, dan naiknya debt level. Yang pada akhirnya memengaruhi kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya. Kebijakan yang kolaboratif, tepat dan terukur akan menentukan prospek terjaganya stabilitas sektor jasa keuangan ke depan.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi menyatakan, indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat menguat sebesar 7,59 persen secara year-to-date (YtD) sampai akhir November 2022. Dengan non-resident membukukan net buy sebesar Rp 81,49 triliun. Di pasar obligasi, indeks pasar obligasi ICBI menguat 3,24 persen mtd dan 2,75 persen ytd ke level 341,96.

“Untuk pasar obligasi korporasi, aliran dana keluar investor non-resident tercatat sebesar Rp 40 miliar month-to-date (MtD) atau Rp 530 miliar year-to-date,” jelasnya.

Di pasar surat berharga negara (SBN), non-resident mencatatkan inflow Rp 23,70 triliun. Sehingga mendorong penurunan yield SBN rata-rata sebesar 43,32 bps MtD di seluruh tenor. Secara YtD, yield SBN telah meningkat rata-rata sebesar 57,54 bps di seluruh tenor. Non-resident mencatatkan net sell Rp 154,41 triliun.

Inarno menyebut, minat untuk penghimpunan dana di pasar modal masih tinggi. Yakni sebesar Rp 226,49 triliun, dengan emiten baru tercatat sebanyak 61 emiten. Di pipeline, masih terdapat 91 rencana penawaran umum dengan nilai sebesar Rp 96,29 triliun.

Kepala Eksekutuf Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, Kredit perbankan pada Oktober 2022 tumbuh menjadi 11,95 persen year-on-year (YoY). Ditopang oleh kredit investasi yang tumbuh 13,65 persen secara tahunan. Secara bulanan, nominal kredit perbankan naik Rp 58,61 triliun menjadi Rp 6.333,51 triliun.

Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 9,41 persen YoY menjadi Rp 7.927 triliun. Didorong didorong peningkatan giro. Sedangkan risiko kredit melanjutkan penurunan. Tecermin dari rasio non performing loan (NPL) net perbankan sebesar 0,78 persen. Secara gross di posisi 2,72 persen.

Di sisi lain, kredit restrukturisasi Covid-19 turun Rp 5,57 triliun menjadi Rp 514,07 triliun dari 2,55 juta nasabah. “Lebih rendah dari September 2022 dengan 2,63 juta nasabah,” paparnya.

Menyikapi berakhirnya kebijakan restrukturisasi kredit/pembiayaan pada Maret 2023, OJK telah memutuskan memperpanjang sampai 31 Maret 2024. Hanya untuk segmen, sektor, industri, dan daerah tertentu (targeted) yang memerlukan. Kebijakan tersebut dilakukan secara terintegrasi dan berlaku bagi perbankan dan perusahaan pembiayaan.

“Berdasarkan analisis yang dilakukan masih dijumpai dampak berkepanjangan pandemi Covid-19 (scarring effect), maka OJK mengambil kebijakan mendukung segmen, sektor, industri dan daerah tertentu yang memerlukan periode relaksasi restrukturisasi kredit/pembiayaan tambahan selama satu tahun,” tandas Dian.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Agas Putra Hartanto



Sumber: www.jawapos.com

Related posts