Gembira Oke tapi Jangan Euforia

Locoshop.co.id – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengingatkan semua pihak untuk tidak larut dalam euforia capaian tinggi ekonomi RI sebesar 5,72 persen. Menurutnya, akan ada tantangan baru bagi perekonomian RI, terlebih jika kondisi ekonomi global masih belum membaik.

“Di kuartal IV 2022 akan ada sebuah tantangan baru jika kondisi global tidak membaik. Jadi, kita jangan euforia. Gembira oke, tapi jangan euforia,” kata Bahlil dalam konferensi pers Investasi Terus Tumbuh Topang Pertumbuhan Ekonomi secara daring, Rabu (10/11).

Ia menjelaskan, hal itu didasari oleh baseline Indonesia pada kuartal III 2021 yang tidak lebih dari 4 persen. Bahlil menyebut, ekonomi RI pada kuartal III 2021 hanya sekitar 3,9 persen dan berbeda dari persentase kuartal II 2021.

Oleh sebab itu, ia meminta seluruh pihak untuk terus hati-hati dan tidak terbuai dengan capaian ekonomi RI pada kuartal III tahun ini. “Hati-hati, saya sedikit beda pendapat dengan sebagian orang bahwa ekonomi Indonesia akan baik-baik saja. Saya jujur aja, pertumbuhan ekonomi kita 5,72 persen tapi kita jangan terbuai,” jelasnya.

Terkait itu, Bahlil mewanti-wanti seluruh pihak untuk terus memastikan stabilitas. Karena menurut proyeksinya, pada tahun 2023 ekonomi global tidak akan sebaik tahun 2022.

“2023 saya berani taruhan ekonomi global tidak akan sebaik 2022 kalau tidak mampu memastikan stabilitas. Ekonomi 2023 akan membaik kalau ada jaminan stabilitas, stabilitas politik, keamanan, maupun stabilitas kebijakan yang continue (berkelanjutan),” imbuhnya.

Selain itu, pada tahun 2023 banyak negara juga diprediksi mengalami resesi. Saat ini pun sudah ada yang menjadi pasien International Monetary Fund (IMF), sebagian lagi antre. Bahlil pun menyebut Indonesia bisa saja menjadi pasien IMF berikutnya.

“Dan kita ke depan akan masuk tahun politik. Kalau tidak mampu kelola dengan baik, bukan berarti tidak mungkin kita menjadi salah satu bagian yang antre pada fase menjadi pasien (IMF),” ungkapnya.

Bahlil memaparkan, ada 16 negara yang saat ini menjadi pasien IMF. Sementara 28 negara lainnya disebut sedang antre menjadi pasien IMF.

Bahlil menyebut ia sebenarnya tetap optimistis soal tahun depan. Namun, perlu juga bersikap realistis agar tidak terjebak dalam optimisme yang tidak mampu diwujudkan.

Ia mewanti-wanti agar Indonesia tidak mengulangi kejadian pada tahun 1998. “Saya pikir bahwa cukuplah pengalaman kelam kita di 1998 itu terjadi. Karena untuk bangkit lagi butuh waktu yang lama. Dan sekarang adalah momentum untuk kita mempertahankan itu,” tandasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : R. Nurul Fitriana Putri



Sumber: www.jawapos.com

Related posts