Berhasil di Nikel, Pemerintah Bidik Hilirisasi Gas dan Pangan

Berhasil di Nikel, Pemerintah Bidik Hilirisasi Gas dan Pangan

Locoshop.co.id – Industri hilirisasi di Indonesia terus digenjot seiring dengan komoditas nikel yang dianggap berhasil karena mampu meningkatkan nilai tambah pendapatan bagi negara.

Tercatat pada 2017, nilai ekspor Indonesia dari nikel senilai USD 3,3 miliar, kemudian terus naik usai adanya hilirisasi yakni pada 2021, mencapai USD 20,9 miliar. Bahkan diprediksi akan terus naik mencapai USD 30 miliar.

Dari keberhasilan hilirisasi nikel tersebut, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah akan melanjutkan hilirisasi ke sektor gas dan pangan. “Kemarin kami rapat terbatas, Bapak Presiden meminta kepada kami untuk menghitung baik serta menyusun langkah pada sektor hilirisasi gas,” kata Bahlil dalam konferensi pers secara daring, Kamis (10/11).

Bahlil menjelaskan, salah satu langkah yang disiapkan adalah membangun pabrik metanol. Bahlil menyebut 80 persen metanol Indonesia berasal dari impor.

Terkait hal ini, Bahlil menyebut sudah ada investor Amerika Serikat (AS) berinvestasi di sektor ini. Adapun lokasi pabriknya direncanakan di Bojonegoro, Jawa Timur.

“Kemudian kita bangun juga pabrik methanol di Jawa Timur, Bojonegoro. Di sana investor sudah ada dari Amerika. Investornya bukan dari Asia, tapi dari Amerika,” jelasnya.

Selain itu, pabrik pupuk dan amonia di Papua Barat, yaitu di Fakfak dan Bintuni. Pabrik pupuk akan didirikan di Fakfak, sementara Pabrik Amonia di Bintuni.

Terkait hilirisasi pangan, Bahlil menyebut ada momentum yang bisa dimanfaatkan. Pasalnya, terjadi konflik antara Rusia-Ukraina yang membuat dunia mengalami krisis pangan dan energi.

Bahlil juga menilai Indonesia memiliki potensi yang sangat besar terkait hilirisasi sektor pangan. Bahkan ia meyakini Indonesia bisa menjadi pusat ketahanan pangan dunia karena memiliki sumber hayati yang beragam dan melimpah.

“Hilirisasi pangan juga akan kami dorong, baik itu perikanan atau pangan secara umum. Kami sudah menuju ke sana, karena investasinya tidak besar tetapi target pasarnya banyak,” lanjut Bahlil.

Ia juga memastikan perencanaan pembangunan ekosistem hilirisasi pangan sedang dilakukan. Terutama menyiapkan instrumen terpenting untuk menciptakan lapangan kerja baru, dan kawasan pertumbuhan ekonomi baru.

“Kami sudah membangun ekosistem perencanaan di sektor pangan. Investasi di sektor pangan juga tidak memerlukan modal yang besar karena tidak terpusat di ibu kota seperti Jakarta tetapi bisa dilakukan di daerah-daerah,” tandasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : R. Nurul Fitriana Putri



Sumber: www.jawapos.com

Related posts